Seputar Fiqih

Seputar Tasawuf

Seputar Islam

BERPIKIR DENGAN QALBU

images (51)

Dalam Angle Heart, sebuah komik yang cukup populer di Jepang, diceritakan tentang seorang yang melakukan transplantasi jantung akibat kecelakaan. Anehnya, setelah transplantasi dia memiliki memori dari pemilik jantung sebelumnya. Di situ sang dokter kemudian mengatakan “The receiver of transplantation would often have memories owner by the donor….. Many reports mention this phenomena. But in the medical world, these reports were deemed as false.”[1]

Memang ini adalah cerita fiksi, akan tetapi seperti dikatakan Dann Brown, penulis novel kenamaan Da Vinci Code, menariknya sebuah cerita karangan dilihat dari bagaimana cerita itu mempunyai data-data yang valid sebagaimana dalam dunia nyata.

Aql dan Qalb biasa diartikan dengan kata akal dan hati, yang sebenarnya merupakan sebuah kesalah-kaprahan. Karena terjemahan qalb yang tepat adalah jantung (heart), segumpal daging yang terbolak-balik, bukannya hati (liver) yang semestinya adalah arti dari kata kabid. Akan tetapi, pengartian qalb seperti itu bisa saja dibenarkan bila yang dimaksud bukanlah qalb (jantung) secara fisik, melainkan qalb dalam artian majāziy.

Dalam al-Quran, kata ‘aql tidak pernah digunakan dalam bentuk kata benda (isim), semuanya diungkapkan menggunakan kata kerja (fi’il). Hal ini menunjukkan bahwa ‘aql bukanlah suatu substansi (jauhar) yang bereksistensi, melainkan aktifitas dari suatu substansi. Jika dipahami demikian maka akan mengundang pertanyaan, substansi apakah yang ber-’aql itu? Pertanyaan itu bila dikembalikan kepada al-Quran, maka dalam sebuah ayat dijelaskan bahwa substansi yang ber-‘aql itu adalah qalb.

أفلم يسيروا في الأرض فتكون لهم قلوب يعقلون بها او آذان يسمعون بها فإنها لا تعمى الأبصار و لكن تعمى القلوب التي في الصدور

Maka tidak pernahkah mereka berjalan di bumi, sehingga hati (akal) mereka dapat memahami, telinga mereka dapat mendengar? Sebenarnya bukan mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang di dalam dada.” (Qs. al-Hajj: 46)

Menurut ajaran tasawuf, komunikasi dengan Tuhan dapat dilakukan melalui daya rasa manusia yang berpusat di-qalb. Kalau para filosof dalam Islam mempertajam daya pikir atau ‘aql-nya dengan memusatkan perhatian pada hal-hal yang bersifat murni abstrak, sufi mempertajam daya daya rasa atau kalbunya dengan menjauhi hidup kematerian serta memusatkan perhatian dan usaha pada penyucian jiwa. Dengan banyak beribadat, melakukan shalat, puasa, membaca al-Quran dan mengingat Tuhan, qalb seorang sufi akan menjadi bersih dan jernih, sehingga ia dapat menerima cahaya yang dipancarkan Tuhan.[2]

Berdasarkan ayat-ayat al-Quran dan al-Hadits yang dipahaminya, Sachiko Murata mengatakan, qalb manusia merupakan pusat sejati manusia, tempat di mana Tuhan mengungkapkan diri-Nya, menurunkan wahyu kepada para nabi, tempat dimana manusia merasakan kehadiran dan kebesaran-Nya, serta tempat di mana Tuhan melihat esensi manusia. Pada sisi lain, qalb merupakan pusat keagungan, penyangkalan, kekafiran dan penyelewengan dari jalan yang lurus. Qalb merupakan tempat kebaikan seperti kesucian, kesalehan, ketegasan, kelembutan, keluasan, perdamaian, cinta, dan taubat.[3]

Menurut Jalaluddin Rumi, qalb manusia mempunyai potensi berpikir yang sangat mengagumkan. Dia mengatakan, dengan qalb-nya manusia dapat berpikir lebih cepat 700 kali lipat dibanding dengan berpikir menggunakan otak semata. Rumi mengibaratkan orang yang berpikir dengan hatinya seperti orang yang berlari cepat, sedangkan orang yang berpikir dengan otak seperti halnya orang cacat kakinya yang terseok-seok. Seakan melecehkan kaum filosof yang cenderung menggunakan otak semata, dalam salah satu bait syairnya Rumi mengatakan: “Kaki kaum rasionalis terbuat dari kayu, dan kayu adalah sangat rapuh”.[4]

Penyingkapan (kasyf), adalah cara meng-’idrāk hakekat sesuatu yang tak terungkap oleh otak dan alat indera, yang hanya terungkap oleh perasaan halus yang bersifat cahaya ketuhanan (qalb). Sebagaimana cermin, jika permukaannya bersih, bayangan benda warna-warni yang berada dihadapannya akan tampak jelas. Demikian juga qalb. Jika permukaannya bening, tiada kotoran-kotoran dosa dan sifat-sifat rendah, maka akan mampu merekam segala hakekat.

Mengacu pada pendapat al-Ghazāliy, penyingkapan ilmu pada qalb hanya dapat dilakukan dengan cara menempuh jalan rohani, yaitu dengan cara menyucikan jiwa (tazkiyah al-nafs) dan memperbaiki (ishlāh) qalb.[5] Hemat al-Ghazāli, para nabi dan para wali pun, tersingkapnya segala sesuatu dan tercurahnya cahaya ke dalam dada mereka bukanlah dengan cara belajar, atau melakukan penelitian menulis buku, melainkan dengan cara zuhud, yaitu melepaskan keterkaitan hati dengan keinginan-keinginan duniawi yang rendah, mengosongkan hati dari kesibukan mencarinya, serta memusatkan cita-cita secara penuh kepada Allah Swt. semata.[6]

Penyingkapan berbagai hakekat ilmu dari cermin lauhal-mahfūdz yang padanya terukir segala ketetapan Allah hingga hari kiamat ke dalam cermin qalb menyerupai kesan gambar pada dua muka cermin yang saling berhadapan. Penghalang antara dua muka cermin terkadang hilang oleh tangan atau tiupan angin. Demikian juga tersingkapnya tirai dari mata qalb. Ia dapat tersingkap oleh angin kelembutan sehingga padanya tampak sebagian yang tertulis di lauh al-mahfūdz. Penampakan ini kadang terjadi di saat tidur sehingga diketahui apa yang akan terjadi di masa yang akan datang. Kadang juga dalam keadaan bangun. Tirai terbuka karena kelembutan tersembunyi dari Allah. Dari belakang tirai metafisika (ghaib) terpancar sinar ilmu pengetahuan yang ajaib ke dalam qalb. Namun, kadang juga seperti kilat yang bersinar.[7]

Kehebatan qalb dalam menangkap ilmu dianggap melebihi kecakapan otak. Ia melebihi kecakapan-kecakapan yang dimiliki alat-alat indra lahir. Beyond the brain and the sense organ – Melebihi otak dan alat-alat persepsi lahir. “Ilmu dapat diperoleh melalui metode refleksi (fikr), penyingkapan (kasyf) dan pewahyuan,” tulis William C. Chittick. “Refleksi dengan menggunakan perangkat akal (yang berpusat di otak). Penyingkapan dengan cara menggunakan perangkat qalb yang dikontraskan dengan akal. Akal mendapatkan ilmu dengan berbagai berbagai keterbatasan dan ikatan-ikatan yang melekat pada dirinya. Sementara hati (qalb) melampaui seluruh keterbatasan sebab sesuai maknanya selalu mengalami perubahan dan transmutasi,”[8] demikian ahli ketimuran itu memaparkan.

Dengan begitu, dalam diri manusia kecerdasan yang sebenarnya bukanlah kecerdasan otak atau alat-alat perpsepsi lahir. Ada kecerdasan yang lebih tinggi dan dapat menangkap pesan-pesan yang sangat abstrak, sekalipun berada di bagian teratas lapisan langit atau bagian terdalam lapisan bumi.

Sekalipun informasi yang telah jauh terlewat, atau masa depan yang sangat jauh. Dialah generator kecerdasan. Otak dan alat-alat persepsi lahir hanyalah sebagai media dari kecerdasan yang satu itu. Otak berfungsi sebagai penghayal, pemikir, penyimpan ingatan dan perasa partisan. Alat-alat persepsi lahir berfungsi sebagai stasiun transmisi parabola, atau pemancar. Lalu kecerdasan apa? Dialah kecerdasan qalb (jantung).[9]

Ada pembuktian ilmiah yang sangat mengejutkan. “Belajar kadang-kadang diduga hanya merupakan fungsi hemisfer serebri (otak)”, tulis William F Ganong. Akan tetapi, anehnya belajar juga terjadi pada banyak spesies binatang yang tidak memiliki korteks serebri. Belajar terjadi pada invertebrata seperti octopus (gurita), bahkan pada organisme bersel tunggal. Selain itu, fenomena mirip-mirip belajar juga, anehnya, terjadi pada tingkat subkorteks dan spinal pada mamalia.[10]

Dengan demikian, belajar bukan semata-mata dominasi otak, tetapi yang lebih hebat dari itu justru belajar dengan koneksi saraf di mana otak berfungsi sebagai pusat koordinasinya. Saraf yang tersemai disekujur tubuh menyambungkan sekitar 100 triliun sel. Pada setiap sel ada kecerdasan. Jantung (al-qalb al-jasmaniy) berfungsi sebagai pensirkulasi bahan bakarnya atau energi listriknya. “Dari situlah kecerdasan qalb lahir”, ungkap Yaniyullah Delta Auliya.[11]

Ada pembuktian ilmiah yang dilakukan oleh Gohar Mushtaq,[12] seorang doktor bidang bio-kimia dan bio-fisika kimia dari Amerika. Sebagai seorang muslim sejak kecil dia merasa penasaran dengan paparan al-Quran bahwa akal berada di hati, bukannya diotak sebagaimana diyakini masyarakat selama ini. Dia berkata:

It may be of interest to readers tomention the reason that acted as an impetus in my writing this book. The subject of the intelligence of the human heart as it is mentioned in religious scriptures has always fascinated me. During my high school years in the 1980s, I was once watching a lecture about the function of the human heart by a surgeon on television. During the course of his lecture, the surgeon mentioned that there is no intelligence or emotion in the human heart. At that time, I did not have any scientific proof to refute his claim. However that incident further triggered my interest in this subject and I started to research the subject of the intelligence of the human heart,”[13]

Setelah melakukan penelitian, karena rasa penasarannya, Mushtaq menemukan hasil yang luar biasa. Ia mendapatkan bukti bahwa di dalam jantung (qalb) terdapat sel-sel yang berfungsi seperti neuron yang bertindak secara independen terhadap otak. Bukan hanya independen, Sel-sel tersebut terkadang malah menghantar sinyal ke otak. Hal ini menunjukkan bahwa pada kasus-kasus tertentu ternyata jantung (qalb) mengawal akal manusia.[14]

Di sebuah situs internet, diulas sebuah tanya jawab yang tertulis bersumber dari al-I‘jāz al-‘Ilmiy fi al-Qur’ān wa al-Sunnah. Diungkapkan bahwa seorang profesor dari Universitas al-Mulk Abdul Aziz menunjukkan bukti di sebuah Koran harian beberapa tahun lalu, yang memberitakan ternyata jantung bukan hanya tempat bagi darah semata. Melainkan juga merupakan pusat akal dan berpikir manusia. Lebih lanjut diungkapkan juga, seorang Dokter Arab Saudi mengatakan, masalah yang dihadapi para dokter yang melakukan penggantian jantung, bahwa jantung baru yang dipasang pada tubuh pasien tidak memiliki emosi dan perasaan. Orang yang dipasangi Jantung tersebut jika didekati dengan tiba-tiba, dia tidak merespon sama sekali, seolah tidak ada sesuatu mengancamnya, jantungnya seolah dingin tidak bisa mengirimkan respon apapun ke seluruh organ tubuhnya.[15]

Dalam al-Quran banyak disebut kata ‘aql atau ‘aqala dengan berbagai bentuk variannya, termasuk juga kata lain yang mempunyai arti serupa dengan ‘aql seperti faqaha, tafakkara dan tadabbara. Demikian juga dengan kata qalb, yang kadang disebut dengan kata shadr dan fu’ād, mencapai jumlah yang tak kurang dari 100 kali disebutkan dalam al-Quran. Menariknya, menurut banyak mufassir, kadang-kadang ‘aql disebutkan dengan kata qalb, seperti halnya dalam surat Qāfayat 37.

Terdapat banyak perbedaan pendapat pada ulama’ mengenai permasalahan ‘aql dan qalb. Imam syafi’i, menyatakan ‘aql berada di dalam qalb. Akan tetapi, Imam Ahmad, sebagaimana dikutip oleh Fadhl bin Ziyād, mengatakan ‘aql manusia berada di otak (dimāgh).[16] Demikian juga halnya dengan Imām Abū Hanīfah dan para pengikutnya. Al-Ghazāliy (451-505 H/ 1059-1111 M) menyatakan, yang berakal adalah qalb. Ada beberapa alasan yang dikemukakan al-Ghazāliy, di antaranya adalah bahwa: (1) ‘aql sering disebut dengan nama qalb (Q.S. al-Hājj: 46, QS. al-A’rāf: 179, dan QS. Qāf: 37). (2) Tempat kebodohan dan lupa adalah qalb, dengan demikian maka qalb merupakan tempat ‘aql dan pemahaman (Q.S. al-Baqarah: 7, 10; QS. al-Nisā’: 155; QS. al-Taubah: 64; QS. al-Fath: 11; QS. al-Muthaffifīn: 14; QS. Muhammad 47: 29; dan QS. al-Hajj: 46). (3) Apabila menusia berpikir secara berlebihan maka qalb-nya akan terasa jenuh dan sesak, sehingga ia seperti terkena penyakit. (4) Qalb merupakan organ yang bersinonim dengan ‘aql.

Sementara itu kelompok kedua mengajukan beberapa alasan pula, yaitu: (1) Otak merupakan sistem pengingat manusia, ia mampu menentukan pilihan dan menggerakkan manusia. (2) Alat yang dapat mencapai daya kognisi adalah otak. (3) Apabila sistem otak rusak maka manusia menjadi gila. (4) Dalam bahasa sehari-hari orang yang sedikit kecerdasannya disebut dengan “ringan otak” atau “lemah otak”. (5) 'Aql mampu mencapai puncak kemuliaan, oleh karena itulah 'aql berada ditempat yang tinggi dan terhormat, yakni kepala.[17]


[1] Komik Angel Heart ditulis oleh Tsukasa Hojo, dan merupakan cerita lanjutan dari seri sebelumnya, City Hunter. Buku komik ini dapat dilihat dan didownload di http://www.stopzamo.com atau di http://www.vnmanga.com.

[2] Harun Nasution, Akal dan Wahyu dalam Islam, (Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia, 1986) hlm. 18

[3] Sachiko Murata, The Tao of Islam, terj. Rahmani Astuti dan M.S. Nasrullah, (Bandung: Mizan, 2000) hlm. 377-380

[4] Amin Syukur dan Masharudin, Intelektualisme Tasawuf, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2002) hlm. 90

[5] Abū Hāmid al-Ghazāli, Ihya’ Ulūm al-Dīn, (Beirut: Dār al-Kitāb al-Islāmiy, t.th.), Jilid III, hlm. 12-13.

[6] Ibid., hlm. 18

[7] Ibid., hlm. 13

[8] William C. Chittik, The Sufi Path of Knowledge: Hermeneutika al-Quran Ibn Arabi, terj. Ahmad Nidjam dkk., (Yogyakarta: Qalam, 2001) hlm. 68

[9] M. Yaniyullah Delta Auliya, Melejitkan Kecerdasan Otak dan Hati, Menurut Petunjuk al-Quran dan Neurologi¸ (Jakarta: Srigunting, 2005), hlm. xiii

[10] Wiliiam F. Ganong, Fisiologi Kedokteran, terj. Adji Dharma (Jakarta: EGC, 1991), hlm. 226

[11] M. Yaniyullah Delta Auliya, Op.Cit., hlm. xiii

[12] Gohar Mushtaq menerima gelar Ph.D di bidang kimia pada tahun 2001, dengan spesialisasi bidang bio-kimia dan bio-fisika kimia. Setelah keluar dari pendidikan kampus, dia melanjutkan belajar ilmu-ilmu Islam kalsik secara privat dari beberapa guru agama. Dia sering mengisi khutbah dan ceramah di beberapa masjid di area New York, New Jersey dan Connecticut. Buku-buku karangannya yang popular di antaranya a Beard: In The Light of the Quran, Sunnah and Modern Science. (Lihat: http://islamicvoice.com). Bukunya yang membahas permasalahan hati ini berjudul Intelligent Heart, The Pure Heart. Akan tetapi karena belum beredar di Indonesia, penulis tidak bisa memiliki buku ini. Akses yang bisa dilakukan penulis terhadap buku tersebut hanya beberapa bagian yang diposting di internet, serta resensi dan komentar-komentar yang terilis mengenainya.

[13] Ibid.

[14] Gohar Mushtaq, The Intelligent Heart, The Pure Heart: An Insight into the Heart Based on the Qur'an, Sunnah and Modern Science, (London: Ta-Ha Publishers Ltd., 2006), hlm. 83. Lihat juga: http://makannasik.blogspot.com

[15] Tulisan tentang ini banyak ditemukan di internet, di antaranya: http://www.alsofwah.or.id dan http://www.hidayatullah.com

[16] Ibn al-Jauziy, al-Adzkiya’, versi CD: al-Maktabah al-Syāmilah, edisi II, hlm. 3. Lihat juga: http://www.mail-archive.com/wanita-muslimah@yahoogroups.com/msg20744.html

[17] Baharuddin, Paradigma Psikologi Islam, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2004) hlm. 119

No comments

Post a Comment

Wajib Kunjung

Google+

Pengunjung

Twitter