Seputar Fiqih

Seputar Tasawuf

Seputar Islam

KARAKTERISTIK QALB

download (8)

Sesungguhnya ma’rifat (mengenal) kepada Allah hanya dapat dilakukan dengan hati (qalb), bukan dengan anggota tubuh yang lain. Qalb yang menggerakkan diri untuk mendekat kepada Allah, bekerja karena-Nya, berjalan menuju-Nya. Bahkan hanya dengan qalb, manusia mampu menyingkap apa-apa yang disisi Allah dan yang ada pada-Nya.[1]

Qalb merupakan sebuah medan peperangan antara tentara ruh dan tentara nafs (hawa). Jika qalb jatuh dalam mengendalikan nafs dan sifat-sifatnya, maka qalb akan menjadi mati dan akan didominasi oleh kejatahan, akan tetapi sebaliknya jika qalb terisi dengan sifat-sifat spiritual dan kemanusiaan, maka qalb akan hidup dan akan timbul kebaikan di dalamnya, dan seseorang yang memiliki hati yang demikian disebut shahih al-qalb. Dan ada juga qalb terombang-ambing antara wilayah nafs (hawa) dan ruh akan tetapi, lebih cenderung ke nafsmaka qalb yang seperti ini akan terkena penyakit dan tidak sampai mematikan karena masih dapat diobati. Jika ingin menyembuhkan penyakit hati ini maka harus menghindari maksiat.[2]

Ditinjau dari segi hidup-matinya hati, Dr. Ahmad Faridh dalam kitabnya, Tazkiyat an-Nufus kitab yang berisi pemikiran Imam Ibnu Rajab al-Hambali, al-Hafidz Ibnu Qayyim al-Jauziyah, dan Imam al-Ghazali membagi hati manusia ke dalam tiga karakter yaitu:

a. Hati yang sakit (qalbn maridh)

Perumpamaan bagi yang hatinya sakit adalah ibarat cermin yang tidak terawat, sehingga penuh noktah-noktah. Namun, dari hari kehari noktah tersebut semakin bertambah. Akibatnya, setiap benda, sebagus apapun yang disimpan di depannya, akan tampak lain pada pantulan bayangannya. Bayangan itu tampak buram dan lebih buruk dari aslinya. Apabila yang bercermin di depannya, siapapun dia, niscaya akan kecewa.[3]

Setiap anggota badan diciptakan untuk fungsi tertentu, kesempurnaannya terletak pada kemampuannya menjalankan fungsi tujuan penciptaannya. Hal ini berarti, penyakit adalah ketidakmampuan menjalankan peran sesuai dengan tugasnya atau mampu melakukannya, tetapi dengan banyak kekurangan.[4] Dengan demikian hati yang sakit adalah hati yang hidup, tetapi menderita sakit.[5] Hati semacam ini sering mengalami kebimbangan antara melakukan kebenaran dan kebatilan. Penyakit hati ini disebabkan oleh beberapa hal, antara lain:

1) Hasad/hasud

Hasad adalah cabang dari kebakhilan (bukhl, syuhh). Orang yang bakhil adalah orang yang kikir dengan apa yang di tangannya kepada orang lain. Dan syahhih ini adalah orang yang bakhil dengan nikmat Allah. Lebih jauh, Imam Ghazali menjelaskan bahwa pendengki adalah orang yang merasa sedih karena Allah memberikan kepada seorang di antara hamba-hamba-Nya, baik berupa ilmu, harta, rasa cinta dalam hati manusia atau sebuah keberuntungan. Hasad adalah puncak kekejian.[6]

Penyakit hati tersebut (hasad dan pendengki) tersebut, sebenarnya sumbernya adalah sifat iri: yakni merasa tidak senang terhadap karunia Allah yang diterima oleh orang lain. Lama-kelamaan, akhirnya timbul hasaddan dengki: yakni berusaha merebut kenikmatan dari tangan orang lain agar bisa dimilikinya.

2) Riya’

Menurut Imam Ghazali, adalah syirikyang tersembunyi, yaitu salah satu dari dua jenis syirik. Riya’ adalah usaha seseorang untuk mencari kedudukan di hati makhluk. Niatnya hanya ingin mendapat kehormatan dan kemuliaan dari orang lain. Maka dampaknya, riya’ akan membatalkan pahala amal kebaikan yang telah dilakukan karena niatnya bukan karena Allah.[7]

3) Ujub

Ujub, sombong, dan angkuh, menurut Imam Ghazali, adalah penyakit hati yang sulit disembuhkan. Ujub adalah pandangan seorang hamba kepada dirinya sendiri dengan mata kehormatan dan pengagungan dan kepada orang lain dengan tatapan hina dan merendahkan.[8]

Penyakit badan merupakan hal yang berlawanan dengan kesehatan dan kebaikan. Tetapi, merupakan hal yang merusak badan. Demikian halnya dengan penyakit hati yang merupakan bentuk kerusakan hati. Kerusakan hati menurut Ibnu Qayyim al-Jauziyyah memiliki beberapa tanda.[9] Antara lain:

1) Tidak pernah merasa sakit, meskipun terluka dan berbagai keburukan.

2) Senang dalam kemaksiatan dan merasa puas, jika telah melakukannya.

3) Lebih mengutamakan yang paling rendah dari yang paling mulia.

4) Membenci kebenaran dan merasa sempit karenanya.

5) Membenci orang-orang saleh.

6) Suka menerima syubhat, suka berdebat dan tidak senang membaca Al-Qur'an.

7) Takut selain Allah.

8) Tidak pernah mengenal kebaikan dan tidak menolak kemungkaran dan tidak terpengaruh oleh nasehat.

b. Hati yang mati (qalbn mayyit)

Hati yang mati adalah hati yang sepenuhnya dikuasai hawa nafsu, sehingga hati terhijab dari mengenal Tuhannya. Hari-harinya penuh kesombongan terhadap Allah. Hati sama sekali tidak mau beribadah kepada Allah. Hati tidak mau menjalankan perintah dan semua hal yang diridhai-Nya.[10]

Hati semacam ini berada dan berjalan bersama hawa nafsu dan keinginannya, walaupun sebenarnya hal itu dibenci dan dimurkai Allah. Hawa nafsu telah menguasai dan bahkan menjadi pemimpin dan pengendali bagi dirinya. Kebodohan dan kelalaian adalah sopirnya. Kemana saja ia bergerak, maka gerakannya benar-benar telah diselubungi oleh pola pikir meraih kesenangan duniawi semata.[11]

Menurut Ibnu Qayyim al-Jauziyah, hawa nafsu imannya, syahwat komandannya, kebodohan pengendalinya, dan kelalaian kendaraannya. Hati senantiasa sibuk berfikir untuk memperoleh ambisi-ambisi duniawi serta diperdaya oleh hawa nafsu dan cinta dunia.[12] Jadi, hati yang mati adalah hati yang tidak mentaati perintah Allah dan selalu mengikuti bujuk rayu setan.

Hawa nafsu telah menulikan telinganya, membutakan matanya, membodohkan akal pikiran dan memporak-porandakan nuraninya, sehingga hati tidak tahu lagi arah mana yang harus ditempuh; tidak tahu lagi mana hak dan mana yang bathil.[13]

c. Hati yang selamat (qalbn salim)

Hati yang selamat adalah hati yang sehat adalah hati yang yang mau menerima, mencintai dan condong kepada kebenaran. Allah berfirman dalam kitab-Nya surat As-Syuara’ ayat 88-89,

يوم لا ينفع مال و لا بنون إلاّ من أتى الله بقلب سليم

“(yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih.[14]

As-salim (yang bersih) adalah as-salim (yang selamat). Banyak perbedaan ungkapan dalam membawakan makna al-qalb as-salim. Ada yang mengartikan hati yang sehat, hati yang bersih, atau hati yang selamat.[15]

Dari beberapa ungkapan tersebut maksudnya adalah sama, yaitu bahwa qalbn salimadalah hati yang bebas (selamat) dari seluruh syahwat (keinginan) yang melanggar perintah Allah dan dari seluruh perkara syubhat. Dengan demikian, hati yang selamat adalah hati yang jauh dari syirik. Maksudnya adalah hati yang selamat dari dosa, dan hanya menyembah, mengabdi, mencintai, pasrah, kembali, takut, berharap, ikhlas hanya untuk Allah semata. Disamping itu jua selalu tunduk dan mengikuti sepenuhnya tuntunan Rasulullah SAW. Hati yang seperti ini memiliki beberapa indikasi,[16] antara lain:

1) Apabila dalam hati terdapat iman dan menjadikan Al-Qur'an sebagai obatnya.

2) Meninggalkan (kesenangan) dunia untuk memperoleh kebahagiaan di akhirat dan berlabuh disana seakan-akan dirinya bagian dari penduduk akhirat.

3) Akan senantiasa memperingatkan pemiliknya sehingga kembali kepada Allah, bergantung kepada-Nya bagaikan orang yang dimabuk cinta merindukan kekasih-Nya.

4) Tidak bosan mengingat Tuhannya, selalu mengabdi pada Tuhannya, tidak bercengkrama dengan selain-Nya, kecuali dengan orang yang menunjukkan jalan kepada-Nya, dan selalu mengingatkannya.

5) Bila kehilangan Allah, akan terasa sakit baginya melebihi sakitnya orang rakus yang kehilangan hartanya.

Orang yang memiliki hati yang selamat (qalbn saliim), hidupnya selalu penuh dengan zikir dan istighfar. Semua ini karena hatinya diselimuti mahabbah (kecintaan) dan tawakkal kepada Allah. Oleh sebab itu, keikhlasan menjadi hiasan hidupnya. Ia selalu ridha dengan apa yang telah Allah berikan kepadanya.[17]

Ciri-ciri hati yang selalu diselimuti mahabbah (kecintaan) kepada Allah akan melaksanakan segala perintah Allah, menjahui segala sesuatu yang dilarang Allah, dan mengakui bahwa segala sesuatu yang ada di alam ini adalah bukti bahwa Allah sebagai sang Pencipta.[18] Allah berfirman dalam surat Ali Imran ayat 31,

قل إن كنتم تحبون الله فاتّبعوني يحببكم الله و يغفر لكم ذنوبكم و الله غفور رحيم

Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah Aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu." Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.[19]

Kecintaan hamba kepada Allah yaitu dengan mengikuti agama Rasulullah, karena Rasulullah adalah utusan Allah yang mempuyai tugas untuk menyampaikan risalah-Nya atas umat yang manusia. Cinta orang-orang mukmin kepada Allah ialah kepatuhannya dalam mentaati perintah-Nya mengutamakan kebaiakan dan mencari keridhaan-Nya sedangkan cinta Allah kepada seorang mukmin ialah pujian Allah kepada mereka serta menganugrahkan hikmah rahmat pemeliharaan dan petunjuk kepada mereka.[20]

Keadaan hati orang ini bersih, putih, tidak ada noktah hitam dalam hatinya. Dengan begitu, cahaya Allah tidak akan terhalang masuk ke dalam hatinya. Hatinya selalu hidup. Hatinya tidak akan merasakan hampa dan kesepian. Karena ada keyakinan dalam hatinya bahwa Allah selalu bersamanya dan memberikan yang terbaik.


[1] Abdullah Gymnastiar, Menggapai Qolbun Salim, (Bandung: Khas MQ, 2005), Cet. II, hlm. 5.

[2] Ibid.

[3] Abdullah Gymnastiar, Op. Cit., hlm. 6-7.

[4] Ibnu Qayyim al-Jauziyyah, Tombo Ati, terj. Muhammad Babul Ulum, (Jakarta: Maghfiroh, 2005), hlm. 41.

[5] Ibid., hlm. 35.

[6] Wawan Susetya, Misteri Hidayah, (Yogyakarta: Diva Press, 2007), hlm. 167.

[7] Ibid., hlm. 73.

[8] Ibid.

[9] Ibnu Qayyim al-Jauziyyah, Op. Cit., hlm. 100-101

[10] Abdullah Gymnastiar, Op. Cit.,hlm. 8.

[11] Ibid., hlm. 8.

[12] Ibnu Qayyim al-Jauziyyah, Menyelamatkan Hati Dari Tipu Daya Setan, terj. Nawn Murtadho, (Solo: al-Qawwam, 2002), Cet. III, hlm. 14

[13] Abdullah Gymnastiar, Op. Cit., hlm. 8-9.

[14] Quraisy Syihab, dkk, Al Hikmah Al-Qur’an dan Terjemahnya, (Bandung: CV. Penerbit Diponegoro, 2008), hlm. 371.

[15] Ibnu Qayyim al-Jauziyyah, Op. Cit.,hlm. 31.

[16] Ibid., hlm. 45-48.

[17] Abdullah Gymnastiar, Op. Cit.,hlm. 9.

[18] Syekh Ibnu Atho, Telaga Ma’rifat, (Surabaya: Mitra Press, 2000), hlm. 269-267.

[19] Quraisy Syihab, dkk, Op.Cit.,hlm. 54.

[20] Al-Ghazali, Menyingkap Rahasia Qalbu, (Surabaya: Amelia, t.th), hlm. 53.

No comments

Post a Comment

Wajib Kunjung

Google+

Pengunjung

Twitter