Seputar Fiqih

Seputar Tasawuf

Seputar Islam

AKHLAK DAN PEMBENTUKAN KELUARGA SAKINAH

muslim_family

Ketika sepasang manusia berlainan jenis mengambil keputusan untuk menikah, tentu mengharapkan dan mendambakan keluarga yang dibina akan menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah dan rahmah. Keluarga yang di dalamnya tercipta suasana harmonis, penuh kebahagiaan dan ketentraman hidup bersama, adanya rasa saling menghormati, menghargai, penuh kedamaian, mengerti tugas masing-masing, adanya keseimbangan dan keselarasan, adanya kesatuan pandangan, pikiran, keyakinan dan cita-cita, adanya rasa tanggung jawab dan kasih sayang serta terpenuhinya material dan spriritual.

Upaya dalam pembentukan keluarga sakinah yang didamba-dambakan, peranan akhlak yang baik bagi sebuah keluarga sangatlah penting bagi terciptanya suasana tentram. Akhlak yang baik dalam kehidupan berkeluarga dapat mewujudkan keluarga yang bahagia. Hal tersebut berimplikasi kepada keharmonisan yang didambakan oleh semua orang.

Pentingnya peran akhlak yang baik dalam sebuah keluarga, menurut al-Ghifari, berimplikasi pada sikap:[1]

a. Saling setia

Setia mengandung makna yang sangat dalam menyangkut kepribadian seseorang yang teguh memegang prinsip yaitu isteri yang shalihah harus senantiasa memiliki sifat tersebut dalam kondisi apapun.

b. Saling terbuka

Rumah tangga adalah bangunan yang di bentuk atas kerjasama antara suami dan isteri kedua tidak boleh menyimpan rahasia, jika ada masalah harus di selesaikan dengan baik.

c. Tidak cemburu berlebihan

Isteri yang memilki cemburu yang berlebihan akan menyebabkan suami dalam posisi yang sulit, karena biasanya memiliki kecenderungan berburuk sangka, banyak was-was pada dirinya sendiri, takut yang berlebihan dan sulit menerima kebenaran secara obyektif.

d. Penuh keceriaan dan murah senyum

Sikap suami dan isteri yang penuh keceriaan dan murah senyum dapat membahagiakan kehidupan keluarga. Keceriaan isteri dan senyumnya ibarat air telaga di tengah padang pasir yang gersang yang menyejukkan dan menyegarkan. Meskipun demikian sifat murah senyum ini harus dibatasi terutama pada lawan jenis atau orang lain agar tidak menjadi fitnah. Oleh karenanya, akhlak yang sangat baik sangat berperan dalam menciptakan suasana hidup yang kondusif, dinamis, selaras dan seimbang.

Adapun pentingnya akhlak yang baik bagi kehidupan manusia antara lain sebagai ikatan iman yang kuat, kebutuhan pribadi dan sosial, wasiat Nabi Muhammad Saw, bekal individu dalam pergaulan, senjata yang aman dari niat buruk seseorang serta pembuka dan pembersih hati kita.

Kita tidak mungkin dapat hidup dengan tenang di dalam keluarga yang tidak memiliki akhlak yang baik. Padahal kehidupan manusia itu sendiri pada dasarnya adalah akhlak yang baik. Akhlak baik ini meliputi akhlak baik kepada Allah dan akhlak yang baik kepada sesama makhluk-Nya, termasuk manusia.

Akhlak yang baik kepada Allah pada pokoknya adalah mengenal-Nya dengan baik, mengesakan-Nya, mengingat-Nya, menyebut-Nya, mensyukuri nikmat-Nya, berprasangka baik kepada-Nya, tawakkal, tawadhu dan senantiasa berharap kepada-Nya.

Adapun bentuk akhlak yang baik kepada sesama manusia juga sekomplek yang diajarkan dalam al-Qur’an dan hadits. Pokok-pokok akhlak yang baik kepada sesama manusia yaitu mengikuti jejak Rasulullah Saw, menghormati keberadaan para Nabi dan Rasul, menghormati para ulama, berbakti kepada orang tua dan lain-lain.

Akhlak merupakan cerminan diri pada apa yang ada dalam pikiran atau hati kita. Orang yang semakin kuat iman dan taqwanya akan semakin mulia akhlaknya. Dari kemuliaan akhlaknya itulah akan semakin menghantarkan kedekatannya baik pada sesama manusia yang berupa rasa dicintai oleh sesama maupun kedekatan kepada sang pencipta (Allah).

Jadi, pentingnya akhlak dalam kehidupan manusia merupakan faktor penting dalam mencapai kebahagiaan terutama dalam keluarga karena menimbulkan perilaku yang menyenangkan, diterima oleh masyarakat dan menentramkan jiwa serta terjalin hubungan yang baik dengan Allah dan sesama manusia.


[1] Abu al-Ghifari, Wanita Ideal Dambaan Pria Sejati, Bandung: Mujahid, 2003, hlm. 49-54

No comments

Post a Comment

Wajib Kunjung

Google+

Pengunjung

Twitter