Seputar Fiqih

Seputar Tasawuf

Seputar Islam

PENGALAMAN SPIRITUAL

zikir (1)

Pengalaman spiritual menunjukkan fenomena potensi-potensi luhur (the highest potentials) yang disebut the altered states of consciusnes (ASOC) adalah pengalaman seseorang melewati batas-batas kesadaran biasa, misalnya saja pengalaman alih dimensi, memasuki alam batin, kesatuan mistik, pengalaman meditasi, dan sebagainya.[1]

Pengalaman spiritual belum tentu religius, karena semua manusia, baik yang beragama maupun tidak beragama dapat mengalami pengalaman tersebut. Dalam kajian ini akan difokuskan pada pengalaman spiritual dari kegiatan keberagamaan pada agama Islam, sehingga dapat disebut pengalaman spiritual.

Mengenai sumber pengalaman spiritual, dapat dikaji melalui wilayah wacana epistemologi Islam. Sumber khasanah intelektual Islam secara garis besar terbagi menjadi empat. Yaitu wahyu, (al-Qur’an dan al-Sunnah), ayat-ayat kawniyyah (alam semesta), ayat-ayat ijtimaa’iyah (interaksi sosial), dan ayat-ayat wujdaaniyyah (pangalaman pribadi). Keempat sumber khasanah tersebut, masing-masing mempunyai wilayah sendiri-sendiri, diantaranya adalah;

Wahyu (al-Qur’an dan al-Sunnah), ia memiliki wilayah yang jelas dan pasti, yaitu berupa teks-teks scriptural yang terdapat dalam al-Qur’an dan al-Sunnah. Khasanah intelektual Islam dari sumber yang pertama ini, memunculkan berbagai disiplin ilmu. Yang paling utama adalah ilmu tauhid (ilmu aqidah) dan ilmu hukum (ilmu syari’ah), namun dilihat dari obyek materinya sama, yaitu teks-teks dalam al-Qur’an atau as-Sunnah.

Wilayah khasanah intelektual yang bersumber dari ayat-ayat kawniyyah (alam semesta), berbeda dengan yang bersumber dari wahyu. Wilayah ini, mendekatkan diri pada perhatian yag lebih besar terhadap fenomena alam yang belakangan memunculkan berbagai disiplin ilmu. Yang utama adalah filsafat dan sains teknologi. Namun sangat disayangkan, wilayah yang kedua ini masih sedikit pengembangannya di dalam Islam.

Wilayah khasanah yang bersumber dari ayat-ayat ijtimaa’iyyah (interaksi sosial) ini melihat lebih mendalam model dan proses interaksi di antara sesama manusia. Wilayah ini memunculkan beberapa disiplin ilmu. Yang paling utama adalah politik dan ekonomi.

Terakhir adalah wilayah khasanah yang bersumber pada ayat-ayat wujdaaniyah (pengalaman pribadi seseorang). Wilayah ini lebih menekankan pada pengalaman-pengalaman seseorang yang tidak mudah ditiru oleh orang lain. Kalaupun bisa ditiru orang lain, dapat dipastikan hasilnya akan berbeda. Inilah yang dalam perkembangannya memunculkan ilmu tasawuf. Untuk dapat memperoleh khasanah tersebut memerlukan beberapa sarana. Ibnu Sab’in menyatakan, bahwa sarana yang dapat digunakan adalah indera, (baik “indera dalam”; yang mengarah pada intuisi apapun “indera luar” yang berupa panca indera) dan akal. Berbeda dengan al-Ghazali yang menyatakan, bahwa sarana yang dapat digunakan ada tiga, yaitu: indera, akal, dan kalbu.

Selanjutnya, manusia dalam upaya memperoleh pengetahuan telah menggunakan berbagai cara. Sesuai dengan perkembangan sejarah manusia, metode yang digunakan dalam memperoleh pengetahuan, mengalamai gradasi yang cukup unik.

Pertama, manusia memperoleh pengetahuan dengan cara melihat, mendengar, membau, dan memegang. Setelah manusia mengindera sesuatu, yang dilanjutkan dengan mengetahui sesuatu tersebut, maka muncul metode empirisme. Karena empirisme itu sendiri berarti pengalaman, dari kata Yunani empeirikos dari kata dasar Empeiria.

Metode kedua, dengan menggunakan akal yang mampu memahami sesuatu yang lebih tinggi. Istilah-istilah abstrak, konsep, ide, dan sebagainya, hanya dapat diperoleh dan diterima melalui akalatau rasio. Pengalaman tidak mampu memperoleh dan mengolah seseuatu, yang bersifat abstrak atau konsep-konsep, atau bahkan ide-ide yang sederhana sekalipun.

Dan metode yang ketiga, dalam memperoleh pengetahuan, manusia menggunakan hati nurani dan alat-alat indera yang sering dikenal dengan nama kalbu. Jadi, secara singkat dapat dikatakan, bahwa metode yang digunakan manusia dalam memperoleh pengetahuan adalah dari pengalaman indera lahir (empirisme), akal (rasionalisme), dan rasa atau indera batin (intuisionisme).[2]

Mengenai pengalaman religius yang terjadi pada diri seseorang, dapat dikaji melalui pendapat William James, tentang pembahasannya mengenai pengalaman keberagamaan (religius experience). Ia mengatakan bahwa hal tersebut mempunyai sumber, yang berpusat dalam kesadaran mistik. Pengalaman-pengalaman ini dipandang sebagai ungkapan religiusitas yang tertanam di relung hati terdalam masing-masing pribadi.

Setiap manusia pada suatu saat niscaya mengalami hal-hal yang menggetarkan dan menakjubkan (trembling and fascinating) yang mungkin berlangsung sekejap atau lebih lama lagi waktunya, disadari atau tidak. Pengalaman religius dapat dijumpai oleh siapapun, baik mereka yang mendalami pengetahuan dan penghayatan agamanya atau orang-orang awam, bahkan ateis sekalipun.[3] Oleh karena itu, pengalaman spiritual memiliki empat karakter, diantaranya adalah:

a. Orang yang mengalaminya mengatakan bahwa pengalaman itu tidak bisa diungkapkan; tidak ada uraian mana pun yang menandai untuk bisa mengisahkannya dalam kata-kata.

Ini berarti bahwa kualitas semacam ini harus dialami secara langsung, dan tidakbisa dipindahkan kepada orang lain. Dalam keadaan mistik seperti ini, situasinya lebih mirip dengan keadaan perasaan daripada keadaan intelek. Bagi orang-orang yang tidak pernah mengalami suatu perasaan tertentu, mereka tidak akan bisa mendapatkan penjelasan mengenai perasaan yang bersangkutan dalam hubungannya dengan kualitas dan makna yang dimilikinya.

Untuk bisa memahami nilai sebuah simfoni, seseorang harus memiliki telinga musikal, dan untuk memahami situasi pikiran yang sedang jatuh cinta, seseorang harus pernah mengalami jatuh cinta. Apabila ia tidak memiliki hati atau telinga, maka ia tidak bisa menafsirkan pemusik atau orang yang jatuh cinta itu dengan adil, dan bahkan ia mungkin akan menganggap mereka memiliki pikiran yang lemah atau absurd. Seorang mistikus akan mendapati bahwa sebagian besar dari seseorang yang mencoba menyesuaikan diri dengan pengalamannya, tidak akan bisa melakukannya dengan baik.[4]

b. Kualitas noetik.

Meskipun sangat mirip dengan situasi perasaan, bagi orang yang mengalaminya, situasi mistik itu juga merupakan situasi berpengetahuan. Dalam situasi ini, orang mendapatkan wawasan tentang kedalaman kebenaran yang tidak bisa digali melalui intelektual semata.

Semua ini merupakan peristiwa pencerahan dan pewahyuan yang penuh dengan makna dan arti, tetapi tidak bisa dikatakan, meskipun tetap dirasakan. Umumnya pengalaman ini juga membawa perasaan tentang adanya otoritas yang melampui waktu.[5]

c. Situasi transien.

Keadaan mistik tidak bisa dipertahankan dalam waktu yang cukup lama. Kecuali pada kesempatan-kesempatan yang jarang terjadi, batas-batas yang bisa dialami seseorang sebelum kemudian pulih ke keadaan biasa adalah sekitar setengah jam, atau paling lama satu atau dua jam.

Sering kali saat mulai melemah, kualitas situasi ini bisa direproduksi di dalam ingatan meskipun tidak terlalu sempurna. Akan tetapi, saat ia datang kembali akan dapat kembali akan dapat dikenali dengan mudah. Kemudian, dari berulangnya peristiwa-peristiwa ini, mudah sekali dimengerti adanya perkembangan yang kontinu pada suasana batin yang dirasakan kaya dan penting.[6]

d. Kepasifan.

Datangnya situasi mistik bisa dikondisikan oleh beberapa tindakan pendahuluan yang dilakukan secara sengaja, seperti melakukan pemusatan pikiran, gerakan tubuh tertentu, atau menggunakan cara-cara yang diuraikan dalam berbagai buku panduan mistisisme. Meskipun demikian, saat kesadaran khas yang ada pada situasi ini muncul, sang mistikus merasa bahwa untuk sementara hasratnya menghilang, dan ia merasa direngkuh dan dikuasai oleh suatu kekuatan yang lebih tinggi.

Hal yang terakhir ini mengaitkan situasi mistik ini dengan gejala kepribadian sekunder atau alternatif tertentu seperti ucapan kenabian, penulisan otomatis, atau keadaan kesurupan saat menjadi seorang medium. Meskipun demikian, jika kondisi-kondisi terakhir ini muncul dengan jelas, orang-orang yang mengalami hal itu tidak bisa menginggat lagi gejala yang mereka alami, dan bisa jadi gejala itu tidak memberikan pengaruh pada kehidupan batin si subjek yang biasa, dan itu hanya dianggap sebagai peristiwa selingan biasa.

Situasi mistik tidak pernah dianggap peristiwa selingan. Ingatan akan situasi itu akan terus ada, dan perasaan yang mendalam tentang pentingnya hal itu akan tetap muncul. Peristiwa itu akan mengubah kehidupan batin subjek pada waktu-waktu di antara perulangan peristiwa-peristiwa tersebut. Meskipun demikian, upaya mengklasifikasikan hal ini secara tajam sangatlah sulit untuk dilakukan, dan kita akan mendapatkan beragam gradasi dan pencampuran.[7]

Selain itu, pengalaman spiritual dapat dikaji melalui ungkapan Iqbal yang menjelaskan tentang beberapa karakteristik pengalaman mistik, diantaranya adalah;

Pertama, adanya kesegeraan pengalaman mistik, yang membutuhkan pengetahuan tentang Tuhan. Artinya, bahwa manusia mengetahui Tuhan sebagaimana mereka mengetahui objek lainnya. Tuhan bukanlah entitas matematis atau sistem konsep, yang berhubungan satu dengan yang lain.

Kedua, tidak dapat dianalisa. Mystic state membawa manusia pada kontak dengan seluruh jalan realitas (hakekat), dimana seluruh perangsang yang lain terlebur menjadi satu dengan yang lain, menjadi satu kesatuan yang tidak dapat dianalisa atau dibedakan. Berbeda dengan kesadaran akal biasa manusia, yang menganggap bahwa realitas, sedikit demi sedikit, secara berurutan, akan memilih pasangan dari perangsang untuk memberi respons.

Ketiga, dari segi isinya sangat obyektif. Sedangkan kedudukan mistisisme bagi seorang mistikus adalah penyatuan dari yang mesra dengan sesuatu yang unik, yang dapat dikategorikan sama dengan pengalaman biasa lainnya.

Keempat, karena pengalaman mistik itu supaya dialami secara langsung, maka pengalaman mistik tersebut tidak dapat dikomunikasikan. Keadaan itu lebih berupa perasaan daripada berupa pikiran. Sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi Muhammad Saw. Beliau mampu mengkomunikasikan kesadaran agamanya kepada orang lain dalam bentuk ketentuan-ketentuan, tetapi isinya tidak dapat disampaikan dengan cara seperti itu. Dan pengalaman mistik menjadi dapat disentuh dan dimengerti oleh akal logis, karena pengalaman mistik tersebut berupa perasaan yang mempunyai unsur pengenal. sehingga terbentuk menjadi sebuah pikiran.[8]


[1] H.D. Bastaman, Logoterapi,(Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2005), hlm.32

[2] In’amuzzahidin Masyhudi, Dari Waliyullah Menjadi Wali Gila, (Semarang: Syifa Press, 2007), hlm. xv-xviii

[3] William James, Perjumpaan Dengan Tuhan (The Varieties of Religious Experience), Terj. Gunawan Admiranto, (Bandung: PT Mizan Pustaka, 2004), hlm. 30

[4] Ibid., hlm. 506

[5] Ibid., hlm. 507

[6] Ibid., hlm. 508

[7] Ibid., hlm. 509

[8] In’amuzzahidin Masyhudi, Op. Cit.,hlm. 107

No comments

Post a Comment

Wajib Kunjung

Google+

Pengunjung

Twitter