Seputar Fiqih

Seputar Tasawuf

Seputar Islam

KEDEWASAAN SUAMI-ISTERI PENCIPTA KELUARGA SAKINAH

menikah

Kehidupan keluarga tak akan selalu semanis madu, suatu saat entah kapanpun, akan datang masa-masa sulit bahkan mungkin masa-masa kritis yang akan menguji keutuhan keluarga, mereka problem keluarga akan datang mulai dari hal-hal yang sebenarnya sepele tapi kemudian menjadi besar dan semakin besar, atau hal yang memang sebenarnya besar dan serius tapi di abaikan, hingga bisa meledak kapan saja, maupun masalah perekonomian keluarga, masalah emosi dan sebagainya.

Setiap permasalahan memerlukan penanganan yang berbeda. Satu hal mungkin akan dapat diatasi dengan materi, hal yang lain dengan perhatian dan kasih sayang, permasalahan yang satu cukup diatasi dengan kata maaf, masalah yang lainnya dengan ketegasan dan lain sebagainya. Akan tetapi, pada akhirnya kedewasaan pasangan suami-isteri itulah yang akan menentukan harmonisasi rumah tangga mereka, karena dari kedewasaanlah akan lahir keluasan hati dalam memandang persoalan, ketepatan dalam mengambil sikap dan kerjasama.

Kedewasaan yang dimaksud adalah sebagai berikut:

1) Dewasa dalam berfikir

Ialah kemampuan mengolah rasio (akal) untuk berfikir fokus pada yang benar dan baik, tidak hanya bagi diri sendiri maupun juga bagi orang lain. Kedewasaan dalam berfikir ini akan melahirkan husnu dzan (baik sangka/positif thinking), selanjutnya dari husnu dzan akan lahir sikap optimis terhadap segala sesuatu yang mungkin mampu kita lakukan rasa optimis itulah yang merupakan langkah awal yang baik dari setiap tindakan kita.

2) Dewasa dalam mengolah hati dan perasaan

Ialah konsen, teguh dan kukuh dalam mengolah serta menggunakan hati dan perasaan (emosi) pada prinsip kebenaran. Kedewasaan dalam mengolah hati dan perasaan ini akan melahirkan ketenangan, tidak emosian, keteguhan hati dan sikap tak mudah putus asa.

3) Dewasa dalam berbuat

Ialah melakukan perbuatan sesuai dengan yang memang seharusnya dilakukan dengan mempertimbangkan baik buruknya tidak hanya bagi diri sendiri tapi juga bagi orang lain serta bertanggung jawab akan akibatnya dunia dan akhirat.[1]

4) Dewasa dalam beragama

Ialah dengan bertaqwa kepada Allah yaitu melaksanakan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya dengan penuh kesadaran, keikhlasan dan pengakuan bahwa kita adalah makhluk-Nya yang kelak di hari kiamat akan mempertanggung jawabkan segala perbuatan kita selama di dunia fana ini. Bila kita berbuat baik maka pahala dan keridhaan Allah Swt dari surga telah Dia sediakan bagi kita, sebaliknya bila kita berbuat jahat maka dosa dan neraka yang Allah persiapkan untuk kita. Dewasa dalam beragama berati juga melaksanakan ketaqwaan setidaknya dengan meningkatkan kualitas iman, ibadah, ilmu dan amal shalih dan ketaqwaan akan jauh lebih baik lagi bila juga disertai dengan meningkatkan kualitas hal-hal tersebut.

Kedewasaan dalam keempat aspek itu akan menentukan jiwa yang matang, bertaqwa dan ma’rifat yang pada akhirnya akan sangat menunjang kebahagiaan keluarga. Akan tetapi, semua upaya untuk meraih kedewasaan itu sangat bergantung pada banyak faktor seperti pendidikan, lingkungan dan yang paling penting adalah faktor kesadaran, keterbukaan diri dari kemauan belajar untuk menjadi lebih baik.

Keluarga yang dewasa akan mensikapi masa lalu dengan memaafkan dan menganggapnya sebagai proses pembelajarannya berharga, menatap masa depan dengan harapan, menghadapai persoalan mereka dengan kebijaksanaan dari memiliki hubungan yang sangat baik dengan sesama manusia terlebih lagi kepada Allah Swt, Tuhan yang menciptakan dan mencintai mereka.[2]


[1] Umay M. Ja’far Shiddiq, Indahnya Keluarga Sakinah (Dalam Naungan al-Qur’an dan Sunnah), Jakarta: Zakia Press, 2004, hlm. 45-51.

[2] Ibid., hlm. 52-54.

No comments

Post a Comment

Wajib Kunjung

Google+

Pengunjung

Twitter