Seputar Fiqih

Seputar Tasawuf

Seputar Islam

MAKNA HIDUP

lampu tangan

1. Pengertian Makna Hidup

Makna hidup adalah hal yang dianggap sangat penting dan berharga, serta memberikan nilai khusus bagi seseorang, sehingga layak dijadikan tujuan dalam kehidupan (the purpose in life). Bila hal itu berhasil dipenuhi akan menyebabkan seseorang merasakan kehidupan yang berarti yang pada akhirnya akan menimbulkan perasaan bahagia. Dan makna hidup ternyata ada dalam kehidupan itu sendiri, dan dapat ditemukan dalam setiap keadaan yang menyenangkan dan tidak menyenangkan, keadaan bahagia, dan penderitaan.

Ungkapan seperti “makna dalam derita” (meaning in suffering) atau “hikmah dalam musibah” (blessing in disguise) menunjukkan bahwa dalam penderitaan sekalipun makna hidup tetap dapat ditemukan. Bila hasrat ini dipenuhi, maka kehidupan yang dirasakan berguna, berharga, dan berarti akan dialami. Sebaliknya, bila hasrat tidak terpenuhi, maka akan menjadikan kehidupan terasa tidak bermakna.

Pengertian mengenai makna hidup menunjukkan, bahwa dalam makna hidup terkandung juga tujuan hidup, yakni hal-hal yang perlu dicapai dan dipenuhi. Mengingat antara makna hidup dan tujuan hidup tak dapat dipisahkan, maka untuk keperluan praktis pengertian keduanya disamakan.[1]

2. Sumber-sumber Makna Hidup

Sumber makna hidup dapat ditemukan dalam kehidupan itu sendiri, betapa pun buruknya kehidupan tersebut. Makna hidup tidak saja ditemukan dalam keadaan-keadaan yang menyenangkan, tetapi juga dapat ditemukan dalam penderitaan sekalipun.

Dalam kehidupan ini terdapat tiga bidang kegiatan yang secara potensial mengandung nilai-nilai yang memungkinkan seseorang menemukan makna hidup di dalamnya apabila nilai-nilai itu diterapkan dan dipenuhi. Ketiga nilai (values) ini adalah creative values, experiential values, dan attitudinal values.

Creative values (nilai-nilai kreatif) adalah kegiatan berkarya, bekerja, mencipta serta melaksanakan tugas dan kewajiban sebaik-baiknya dengan penuh tanggung jawab. Menekuni suatu pekerjaan dan meningkatkan keterlibatan pribadi terhadap tugas serta berusaha untuk mengerjakannya dengan sebaik-baiknya, merupakan salah satu contoh dari kegiatan berkarya.

Melalui karya dan kerja seseorang dapat menemukan arti hidup dan menghayati kehidupan secara bermakna. Bekerja itu dapat menimbulkan makna dalam hidup, secara nyata dapat dialami sendiri apabila seorang yang telah lama tak berhasil mendapat pekerjaan, kemudian seorang teman menawari suatu pekerjaan untuknya, kalau pun ternyata gajinya tidak terlalu besar maka kemungkinan ia akan menerima tawaran itu, karena ia akan merasa berarti dengan memiliki pekerjaan daripada tidak memiliki sama sekali.[2]

Experiential values (nilai-nilai penghayatan) adalah keyakinan dan penghayatan akan nilai-nilai kebenaran, kebijakan, keindahan, keimanan, dan keagamaan, serta cinta kasih. Menghayati dan meyakini suatu nilai dapat menjadikan seseorang berarti hidupnya. Tidak sedikit orang-orang yag merasa menemukan arti hidup dari agama yang diyakininya, atau ada orang yang menghabiskan sebagian besar usianya untuk menekuni suatu cabang seni tertentu. Cinta kasih dapat menjadikan pula seseorang dapat menghayati perasaan berarti dalam hidupnya. Dengan mencintai dan merasa dicintai, seseorang akan merasakan hidupnya penuh dengan pengalaman hidup yang membahagiakan.[3]

Attitudinal values (nilai-nilai bersikap),adalah menerima dengan penuh ketabahan, kesabaran, dan keberanian atas segala bentuk penderitaan yang tidak mungkin dielakkan lagi, seperti sakit yang tidak dapat disembuhkan, kematian, dan menjelang kematian, setelah segala upaya dan ikhtiar dilakukan dengan maksimal. Perlu dijelaskan dalam hal ini yang dirubah bukan keadaannya, melainkan sikap yang diambil dalam menghadapi keadaan tersebut. Ini berarti apabila seseorang menghadapi keadaan yang tidak mungkin dirubah atau dihindari, sikap yang tepatlah yang masih dapat dikembangkan.

Sikap menerima yang penuh ikhlas dan tabah, hal-hal yang tragis dan tidak mungkin dielakkan lagi dapat mengubah pandangan seseorang dari yang semula diwarnai penderitaan semata-mata menjadi pandangan yang mampu melihat makna dan hikmah dari penderitaan. Penderitaan memang dapat memberikan makna dan guna, apabila kita dapat mengubah sikap terhadap penderitaan menjadi lebih baik lagi. Ini berarti bahwa dalam keadaan bagaimanapun, arti hidup masih dapat ditemukan, asalkan saja seseorang dapat mengambil sikap yang tepat dalam menghadapinya.[4]

3. Harapan Sebagai Makna Hidup/Hopeful Values (Nilai Pengharapan)

Selain tiga ragam nilai yang dikemukakan Viktor Frankl, ada nilai lain yang dapat menjadikan seseorang menjadi bermakna, yaitu harapan (hope)/nilai pengharapan (hopeful values), yang memiliki pengertian, keyakinan akan terjadinya hal-hal yang baikatau perubahan yang menguntungkan dikemudian hari. Harapan dapat diibaratkan seorang yang hampir putus asa karena berhari-hari tersesat duka yang gelap pekat, tiba-tiba melihat cahaya dari kejauhan, tentunya orang yang hampir putus harapan itu sekarang menjadi optimis dan penuh harapan. Tetapi harapan sekalipun belum tentu menjadi kenyataan, menjanjikan sebuah peluang dan solusi serta peluang baru yang menjanjikan, yang dapat menimbulkan semangat dan optimisme. Harapan mungkin sekedar impian, tetapi tidak menutup kemungkinan impian menjadi kenyataan.

4. Karakteristik Makna Hidup

Makna hidup memiliki sifat yang unik, pribadi dan temporer, artinya apa yang dianggap berarti oleh seseorang belum tentu berarti pula oleh orang lain. Mungkin pula apa yang dianggap penting dan bermakna pada sat ini bagi seseorang, belum tentu sama bermaknanya pada saat yang lain pada seseorang. Dalam hal ini makna hidup seseorang dan apa yang bermakna bagi dirinya biasanya sifatnya khusus, berbeda dan tidak sama dengan makna hidup orang lain, serta mungkin pula dari waktu ke waktu dapat berubah. Makna hidup tidak dapat diberikan oleh siapapun, melainkan harus dicari, dijajaki, dan ditemukan sendiri oleh seseorang yang menginginkan makna hidup tersebut hinggap pada dirinya.

Sifat lain dari makna hidup adalah memberi pedoman dan arahan terhadap kegiatan-kegiatan yang kita lakukan, sehingga makna hidup itu seakan-akan “menantang” kita untuk memenuhinya. Dalam hal ini begitu makna hidup ditemukan dan tujuan hidup ditentukan, seakan-akan seseorang terpanggil untuk melaksanakan dan memenuhinya, serta kegiatan-kegiatan kita pun menjadi lebih terarah kepada pemenuhan itu.[5]

5. Makna Hidup dan Hidup Bahagia

Berbicara tentang kehendak untuk hidup bermakna (the will to meaning) dan makna hidup (the meaning of life) sering menimbulkan pertanyaan-pertanyaan seperti “Apakah makna hidup sama dengan kebahagiaan? Apakah hidup secara bermakna identik dengan hidup bahagia? Bagaimana kebahagiaan dapat dicapai?” Dapat diajukan pandangan bahwa makna hidup tidak identik dengan kebahagiaan, kesusahan ataupun kekayaan dan kekuasaan, walaupun semuanya ada hubungannya.

Dalam hal ini, kebahagiaan adalah ganjaran dari usaha yang telah dijalankan dalam kegiatan-kegiatan yang bermakna, sedangkan kekayaan dan kekuasaan merupakan salah satu sarana yang dapat menunjang kegiatan-kegiatan bermakna.[6]


[1] H.D. Bastaman, Logo Terapi (Psikologi Untuk Menemukan Makna Hidup), (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2004), hlm. 45-46

[2] Ibid., hlm. 46-47

[3] Ibid., hlm. 48-49

[4] Ibid., hlm. 48-50

[5] Ibid., hlm. 50-54

[6] Ibid., hlm. 45-55

No comments

Post a Comment

Wajib Kunjung

Google+

Pengunjung

Twitter