Seputar Fiqih

Seputar Tasawuf

Seputar Islam

MAKNA SABAR

kuli ikhtiyar

Sabar adalah suatu bagian dari akhlak yang paling utama dan ditekankan oleh al-Qur’an baik dalam surat-surat Makiyyah maupaun Madaniyyah, serta merupakan akhlak yang terbanyak sebutannya dalam al-Qur’an,[1] yang dibutuhkan seorang muslim dalam masalah dunia dan agama. Ia harus mendasarkan segala amal dan cita-citanya kepada-Nya.

Sebagai muslim wajib meneguhkan hatinya dalam menanggung segala ujian dan penderitaan dengan tenang. Demikian juga dalam menunggu hasil dari pekerjaan, bagaimana jauhnya, memikul beban hidup harus dengan hati yang yakin, tidak ragu sedikitpun, dihadapi dengan ketabahan dan sabar serta tawakal. Oleh karena itu, hendaklah manusia senantiasa ingat kepada Allah, ingat akan kekuasaan dan kehendak-Nya yang tidak ada seorangpun dan apapun yang dapat menghalanginya, bahkan segala sesuatu yang terjadi di dunia ini.

Orang yang bijak adalah orang yang bersabar ketika mendapatkan urusan yang besar dan menghadapinya dengan penuh ketegaran. Sebaliknya, tidak dikatakan orang yang bijak bila menghadapi masalah besar dengan penuh kebingungan dan kondisinya yang selalu berubah-ubah karena diliputi rasa cemas.[2]

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, sabar berarti tahan menghadapi cobaan (tidak lekas marah, tidak lekas putus asa, tidak lekas patah hati, tenang, tidak tergesa-gesa, tidak terburu nafsu).[3] Kata sabar sendiri dalam bahasa Arab berasal dari kata (صَبَرَ يَصْبِرُ) yang bermakna menahan diri dalam kesulitan atau mengendalikan diri sesuai dengan yang dikehendaki akal dan syara’. Bersabar artinya berupaya sabar. Ada pula al-shibru dengan meng-kasrah-kan shad artinya obat yang pahit, yakni sari pepohonan yang pahit. Menyabarkannya berarti menyuruhnya sabar. Bulan sabar, artinya bulan puasa.

Ada yang berpendapat, “Asal kalimat sabar adalah keras dan kuat”. Al-Shibru tertuju pada obat yang terkenal sangat pahit dan sangat tidak enak. Al-Ushmu'i mengatakan, “Jika seorang lelaki menghadapi kesulitan secara bulat, artinya ia menghadapi kesulitan itu dengan sabar”. Ada pula al-Shubru dengan men-dhamah-kan shad, tertuju pada tanah yang subur karena kerasnya. Ada pula yang berpendapat, sabar itu diambil dari kata mengumpulkan, memeluk, atau merangkul. Sebab, orang yang sabar itu yang merangkul atau memeluk dirinya dari keluh-kesah. Ada pula kata shabrah yang tertuju pada makanan. Pada dasarnya, dalam sabar itu ada tiga arti, yaitu: menahan, keras, mengumpulkan, atau merangkul, sedang lawan sabar adalah keluh-kesah.[4]

M. Quraish Shihab, dalam Tafsir Mishbah-nya, menguraikan bahwa kata shabr/sabar maknanya ber-kisar pada tiga hal, yaitu: pertama, menahan; kedua, ketinggian sesuatu; dan ketiga, sejenis batu. Dari makna “menahan” lahir makna konsisten/ bertahan, karena yang bertahan menahan pandangannya pada satu sikap. Seseorang yang menahan gejolak hatinya, dinamai bersabar; yang ditahan di penjara sampai mati dinamai mashburah. Dari makna kadua lahir kata shubr, yang berarti puncak sesuatu, dan dari makna ketiga muncul kata ash-shubrah, yakni batu yang kukuh lagi kasar, atau potongan besi. Ketiga makna tersebut dapat kait-berkait, apalagi bila pelakunya manusia. Seorang yang sabar, akan menahan diri, dan untuk itu dia memerlukan kekukuhan jiwa, dan mental baja, agar dapat mencapai ketinggian yang diharapkannya.[5]

Lebih lanjut M. Quraishy Shihab mengemukakan bahwa sabar itu bukan berarti “lemah” atau “menerima apa adanya”, tetapi merupakan perjuangan yang menggambarkan kekuatan jiwa pelakunya sehingga mampu mengalahkan atau mengendalikan keinginan nafsunya. Dari sini tidak heran kalau “puasa” dinamai sabar karena esensi pokok dari ibadah puasa adalah pengendalian diri yang berakhir dengan kemenangan.[6] Secara khusus, sabar juga mengandung arti sikap konsisten untuk senantiasa menentukan pilihan maju (progression choise) dan senantiasa menghindarkan diri dari pilihan-pilihan mundur (regression choise).[7]

Kadang orang hanya memahami sabar sebagai sebuah sikap fatalistis dan kepasrahan dalam menghadapi cobaan atau musibah. Padahal sabar, menurut Hamzah Ya’qub adalah sebagai salah satu dari a’mal al-qalbiyah, sikap jiwa yang akan menghantarkan seseorang kepada keberuntungan, sukses, dan kebahagiaan.[8] Jadi, sabar ialah suatu kekuatan, daya positif yang mendorong jiwa untuk menunaikan kewajiban. Disamping itu, sabar juga merupakan kekuatan untuk menghalangi seseorang dari melakukan kejahatan.


[1] Yusuf al-Qardhawi, al-Qur’an Menyuruh Kita Sabar, terj. H.A. Aziz Salim Basyarahil, Jakarta: Gema Insani Press, 2003, h. 11

[2] Musthafa al-Ghalayani, µIdhah an-Nasyi’in: Kitab Akhlaq wa Adab wa Ijtima’, Terj. Ali Nurdin, What ABG Should Know: Pesan-Pesan Penting untuk Remaja, Bandung: Pustaka Hidayah, 2004, cet. I, h. 16.

[3] Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaaan Bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka, 1993, h. 763.

[4] Muhammad Rabbi Muhammad Jauhari, Keistimewaan Akhlak Islami, terj. Dadang Sobar Ali, Bandung: Pustaka Setia, 2006, h. 342.

[5] M. Quraish Shihab, Tafsir al-Mishbah; Pesan, Kesan dan Keserasian al-Qur’an, vol 2, Jakarta: Lentera Hati, 2005, cet. II, h. 322.

[6] M. Quraish Shihab, Tafsir al-Amanah, Jakarta: Pustaka Kartini, 1992, h. 112.

[7] Hasyim Muhammad, Dialog Tasawwuf dan Psikologi: Telaah atas Pemikiran Psikologi Humanistik Abraham Maslow, Yogyakarta: Pustaka Pelajar Offset, Cet. I, 2002, h. 122.

[8] Hamzah Ya’qub, Tingkat Ketenangan dan Kebahagiaan Mukmin (Tashawwuf dan Taqarrub), Jakarta: Atisa, 1992, h. 203-204.

No comments

Post a Comment

Wajib Kunjung

Google+

Pengunjung

Twitter